KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan
ke Hadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat, rahmat dan karunianya, saya dapat
menyelesaikan tugas Kimia.
Saya telah berupaya
menyempurnakan tugas ini, namun seperti kata pepatah, “ Tak ada gading yang tak
retak” maka saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah,
meluangkan waktu untuk membaca,
Terima kasih.
Gianyar, 25 Februari
2011
Dampak Bahan Bakar Terhadap
Lingkungan

Dampak terhadap lingkungan
Dampak
lingkungan yang ditimbulkan oleh sistem transportasi yang tidak
"sustainable" dapat dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu dampak
terhadap lingkungan udara dan dampak terhadap lingkungan air.Kualitas udara
perkotaan sangat menurun akibat tingginya aktivitas transportasi. Dampak yang
timbul meliputi meningkatnya konsentrasi pencemar konservatif yang meliputi: ·
Karbon monoksida (CO) · Oksida sulfur (SOx) · Oksida nitrogen (NOx) · Hidrokarbon
(HC) · Timbal (Pb) · Ozon perkotaan (O3) · Partikulat (debu) Perubahan kualitas
udara perkotaan telah diamati secara menerus di beberapa kota baik oleh
Bapedalda maupun oleh BMG.Secara tidak langsung, kegiatan transportasi akan
memberikan dampak terhadap lingkungan air terutama melalui air buangan dari
jalan raya. Air yang terbuang dari jalan raya, terutama terbawa oleh air hujan,
akan mengandung bocoran bahan bakar dan juga larutan dari pencemar udara yang
tercampur dengan air tersebut.
Dampak Terhadap
Udara dan Iklim
Selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil
(misalnya: minyak bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon
dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang
menyebabkan pencemaran udara (hujan asam, smog dan pemanasan global).
Emisi NOx (Nitrogen oksida) adalah pelepasan gas NOx ke
udara. Di udara, setengah dari konsentrasi NOx berasal dari kegiatan manusia
(misalnya pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan transportasi),
dan sisanya berasal dari proses alami (misalnya kegiatan mikroorganisme yang
mengurai zat organik). Di udara, sebagian NOx tersebut berubah menjadi asam
nitrat (HNO3) yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam.
Emisi SO2 (Sulfur dioksida) adalah pelepasan gas SO2 ke
udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam.
Seperti kadar NOx di udara, setengah dari konsentrasi SO2 juga berasal dari
kegiatan manusia. Gas SO2 yang teremisi ke udara dapat membentuk asam sulfat
(H2SO4) yang menyebabkan terjadinya hujan asam.
Emisi gas NOx dan SO2 ke udara dapat bereaksi dengan uap
air di awan dan membentuk asam nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4) yang
merupakan asam kuat. Jika dari awan tersebut turun hujan, air hujan tersebut
bersifat asam (pH-nya lebih kecil dari 5,6 yang merupakan pH “hujan normal”),
yang dikenal sebagai “hujan asam”. Hujan asam menyebabkan tanah dan perairan
(danau dan sungai) menjadi asam. Untuk pertanian dan hutan, dengan asamnya
tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman produksi. Untuk perairan, hujan
asam akan menyebabkan terganggunya makhluk hidup di dalamnya. Selain itu hujan
asam secara langsung menyebabkan rusaknya bangunan (karat, lapuk).
Smog merupakan pencemaran udara yang disebabkan oleh
tingginya kadar gas NOx, SO2, O3 di udara yang dilepaskan, antara lain oleh
kendaraan bermotor, dan kegiatan industri. Smog dapat menimbulkan batuk-batuk
dan tentunya dapat menghalangi jangkauan mata dalam memandang.
Emisi CO2 adalah pemancaran atau pelepasan gas karbon
dioksida (CO2) ke udara. Emisi CO2 tersebut menyebabkan kadar gas rumah kaca di
atmosfer meningkat, sehingga terjadi peningkatan efek rumah kaca dan pemanasan
global. CO2 tersebut menyerap sinar matahari (radiasi inframerah) yang
dipantulkan oleh bumi sehingga suhu atmosfer menjadi naik. Hal tersebut dapat
mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut.
Emisi CH4 (metana) adalah pelepasan gas CH4 ke udara yang
berasal, antara lain, dari gas bumi yang tidak dibakar, karena unsur utama dari
gas bumi adalah gas metana. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang
menyebabkan pemasanan global.
Batu bara selain menghasilkan pencemaran (SO2) yang paling
tinggi, juga menghasilkan karbon dioksida terbanyak per satuan energi. Membakar
1 ton batu bara menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida. Untuk mendapatkan
jumlah energi yang sama, jumlah karbon dioksida yang dilepas oleh minyak akan
mencapai 2 ton sedangkan dari gas bumi hanya 1,5 ton.

Solusi:
Dengan
cara mengurangi memakai kendaraan bermotor. Karena asap yang ditimbulkan bisa
menyebabkan polusi pada udara. Sebaiknya kita menggunakan kendaraan umum.
Misalnya, menggunakan bus untuk berangkat ke tempat tujuan kita. Dengan cara
itu kita bisa menghemat BBM dan mencegah kemacetan. Kalau tempat itu dekat kita
dapat menggunakan sepeda agar udara tidak tercemar oleh asap kendaraan.
Dampak Terhadap Perairan
Eksploitasi minyak bumi, khususnya
cara penampungan dan pengangkutan minyak bumi yang tidak layak, misalnya:
bocornya tangker minyak atau kecelakaan lain akan mengakibatkan tumpahnya
minyak (ke laut, sungai atau air tanah) dapat menyebabkan pencemaran perairan. Pada dasarnya pencemaran tersebut disebabkan oleh kesalahan
manusia.

Solusi:
Dengan cara membuat batasan
antara tempat penyulingan minyak dan perairan laut. Agar minyak bumi tidak
mudah tumpah ke perairan laut.
Dampak Terhadap Tanah
Dampak penggunaan energi terhadap tanah dapat diketahui,
misalnya dari pertambangan batu bara. Masalah yang berkaitan dengan lapisan
tanah muncul terutama dalam pertambangan terbuka (Open Pit Mining).
Pertambangan ini memerlukan lahan yang sangat luas. Perlu diketahui bahwa
lapisan batu bara terdapat di tanah yang subur, sehingga bila tanah tersebut
digunakan untuk pertambangan batu bara maka lahan tersebut tidak dapat
dimanfaatkan untuk pertanian atau hutan selama waktu tertentu.
Solusi:
Menghemat pemakaian batu bara sehingga lahan tersebut
bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Dampak terhadap kesehatan
Dampak terhadap
kesehatan merupakan dampak lanjutan dari dampak terhadap lingkungan udara.
Tingginya kadar timbal dalam udara perkotaan telah mengakibatkan tingginya
kadar timbal dalam darah.
Solusi:
Membiasakan diri dengan cara hidup sehat. Misalnya
memakai kendaraan umum pada saat berpergian dan menanam pohon di sekitar
lingkungan rumah.
Penutup
Demikianlah tugas Kimia yang telah
saya buat, saya harapkan karya saya ini bermanfaat bagi kita semua. Saya sangat
menyadari tugas ini belum sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu saya mohon kritik dan sarannya dari pembaca, Bapak guru maupun
teman-teman yang bersifat membangun sehingga kedepannya saya dapat membuat
tugas Bahasa Indonesia ini dengan lebih baik.
Apabila kata-kata maupun kalimat
yang kurang tepat atau tidak berkenan di hati pembaca, saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya dan agar dapat memakluminya.
Akhir kata saya mengucapkan terima
kasih banyak atas waktu yang sudah digunakan untuk membaca tugas saya ini.
Om,
Santih, Santih, Santih Om